Seekor burung sendirian di tepi pagar, ia terus berkicau, berkicau dan berkicau, tak peduli orang suka atau tidak dengan kicauannya, tak acuh apakah kicauannya terdengar merdu atau sendu.
Ia hanya berkicau dan berkicau, melepaskan semua sauaranya keangkasa entah untuk siapa. Burung-burung lainnya memandang dengan keheranan, ingin menimpali kicauannya, namun entah kenapa kicauannya kali ini seolah tak ingin ditimpali.
Ia hanya ingin berkicau kicaunya kepada siapa ? kepada angin ? kepada pohon atau kepada awan ? ia hanya ingin berkicau kicaunya.
Kamis, 30 Desember 2010
Jumat, 27 Agustus 2010
Ketika Hujan
Ketika hujan datang, debu2 pun tiada, basah dan melepaskan kebebasannya untuk terbang.
Ketika titik2 air itu jatuh, akupun rindu pada panas yg buatku terjaga dari dingin yang melenakan
Ketika daun-daun basah, dahan-dahan pun tertawa menikmati
Ketika petir bersahutan, pucuk pohon kelapa gemetar ketakutan
Rabu, 18 Agustus 2010
Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (first published 1982)
Details : 397 PagesISBN : 9792201963 ===========================================
Buku ini bercerita tentang Srintil, seorang Ronggeng, yang luar biasa cantik. Namun sepertinya kecantikannya itu seolah menjadi kutukan baginya.
Srintil, seorang anak Dukuh Paruk. Dukuh dengan alam yang begitu indah dan burung-burung yang demikian banyak (dicerirakan berulang-ulang oleh sang pengarang). Dukuh penuh kecabulan, yang para istri rela bahkan bangga jika suami mereka berhasil meniduri Srintil. Dukuh yang dinaungi kemiskinan, dimana anak-anak kurus yang jika makan tempe bongkrek saja sudah dianggap mewah. Dukuh yang tidak beuntung karena ikut terseret dalam pegolakan 1965.
Hal yang paling
Siapa yang harus disalahkan atas penderitaan srintil ?
tak ada karena begitulah dunia diciptakan Tuhan, Terima Saja
Saroh
Sesosok gadis cilik menatapku.
Dengan tatapan yang seolah berkata "Aku sama dengan yang lain"
Dia tersenyum lepas menatapku.
Aku pun membalas senyum manisnya.
Tanpa sepatah kata pun.
Sampai ku dengar suaranya.
Sungguh aku mengharu biru.
Oh Tuhanku.....
Ia Seorang "TUNA RUNGU".
Nyatakah ini ..??
Dengan tatapan yang seolah berkata "Aku sama dengan yang lain"
Dia tersenyum lepas menatapku.
Aku pun membalas senyum manisnya.
Tanpa sepatah kata pun.
Sampai ku dengar suaranya.
Sungguh aku mengharu biru.
Oh Tuhanku.....
Ia Seorang "TUNA RUNGU".
Nyatakah ini ..??
Minggu, 23 Mei 2010
Matahari Elips
Matahari itu memijar merah
Bertemu burung-burung yang beranjak ke peraduan
Kembali dari petualangan
Awan-awan tipis juga menghadiri
Semarakkan hening suasana senja
Ingin rasanya nikmati ketentraman itu
Kapanpun gundah menghampiri
Seolah terkantongi di saku kiri
Ibarat sebatang rokok yang siap berasap
Kapapanpun lidah terasa “gatal”
Bertemu burung-burung yang beranjak ke peraduan
Kembali dari petualangan
Awan-awan tipis juga menghadiri
Semarakkan hening suasana senja
Ingin rasanya nikmati ketentraman itu
Kapanpun gundah menghampiri
Seolah terkantongi di saku kiri
Ibarat sebatang rokok yang siap berasap
Kapapanpun lidah terasa “gatal”
Seorang Pengecut
Sesampainya di ujung
Aku berlari
Kau bingung mematung
Ku lepas genggaman
Aku berlari
Kau bingung mematung
Ku lepas genggaman
Kau meronta bertahan
Seratus delapan puluh derajat
Ku berputar tinggalkanmu
Kau berteriak
“Lelaki pengecut…”
Seratus delapan puluh derajat
Ku berputar tinggalkanmu
Kau berteriak
“Lelaki pengecut…”
Kamis, 20 Mei 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
